Tuesday, March 24, 2015

Keberadaan tuhan dalam sepakbola?


#In nomine Patris et Filii et Spiritus Sancti

"...in Spain all 22 players cross themselves, if it works the game is always going to be a tie." -- Johan Cruyff

Aku bukanlah orang yang mudah takjub dengan halhal yang berbau relijius; aku secara pribadi adalah seorang ateis, tidak percaya dengan keberadaan tuhan. Namun drama lapangan hijau terkadang akan mencapai klimaksnya saat menyentuh sisi relijius, dan bagi merekamereka yang meyakini adanya tuhan pasti akan beranggapan bahwa tuhan juga hadir dalam sebuah pertandingan sepakbola yang menguras emosi dan pikiran. "Ada teologi di atas lapangan hijau," mungkin itu yang ada dalam benak orangorang kebanyakan.

Saturday, March 21, 2015

Merayakan emosi


#Karena setiap emosi pantas untuk dirayakan

Dunia menyukai hal yang meluap-luap, ledakan kejutan di tengah monotonnya hidup harian. Sebuah perayaan. Begitu juga dengan sepakbola. Dalam kurun waktu satu setengah jam [dan terkadang ditambah dengan beberapa menit] ada begitu banyak pesepakbola yang rela melakukan apa pun agar bisa melakukan toss dengan pelatih, berteriak dengan garang, melakukan gerakan tarian bersama kawan-kawannya, berlari ke tribun penonton sembari menjulurkan lidah, bergaya arogan layaknya Super Saiyan, mengacungkan kepalan tangan ke udara, dll. untuk meluapkan emosi setelah berhasil mencetak gol. Waktunya memang hanya sebentar, tapi euforianya bisa bertahan sepanjang masa.

Selain menyaksikan skill para pemain dalam suatu pertandingan sepakbola, luapan emosi mereka setelah berhasil memasukkan bola ke gawang lawan adalah satu hal lain yang begitu menyenangkan untuk dinikmati. Aku, dan mungkin kamu, yang melihatnya secara langsung di stadion maupun melalui sebuah kotak ajaib bernama televisi pasti terlarut dalam momen kebahagiaan tersebut.

Saturday, March 7, 2015

Tendangan kung-fu Eric Cantona


#Malam yang mengubah sepakbola, selamanya

"I have this passion in me that I can't handle. It's like a fire inside you which demands to escape and which you have to let go. Sometimes it wants to get out to do harm. I do myself harm. It worries me when I do harm, especially to others. But I can't be what I am without these other sides to my character." -- Eric Cantona

Pertandingan
Pada tanggal 10 Januari 1995, Manchester United membeli Andy Cole dari Newcastle United dengan uang transfer sebesar £7 juta, salah satu sensasi transfer di Inggris pada saat itu. Cole sangat produktif pada musim sebelumnya dengan mencetak 34 gol di Premier League Inggris dan tidak satu pun dari gol tersebut dicetak melalui tendangan penalti. Tetapi pada musim selanjutnya, Cole hanya mampu mencetak sebiji gol dalam tiga bulan yang akhirnya membuat Kevin Keegan yakin telah membuat satu keputusan yang tepat dengan membiarkan Cole, yang diklaim telah kehilangan insting gol dan aura kebintangannya, hijrah ke Old Trafford.

Sunday, March 1, 2015

Juventus vs. AS Roma, 15 Februari 1997


#Remember when

Stadio delle Alpi hampir penuh saat dua klub sepakbola terbesar di Italia bertemu pada 15 Februari 1997 silam. Juventus di bawah kendali Marcello Lippi merupakan juara Liga Champions Eropa, menjamu AS Roma yang sedang berjuang untuk menemukan bentuk terbaik mereka pada giornata 24 musim 1996/97. Saat itu Juventus duduk di singgasana teratas Serie A Italia dengan meyakinkan dan tampil gemilang di kompetisi Eropa. Itu juga merupakan musim pertama bagi Zinedine Zidane di Italia, di mana dia langsung menjadi arsitek keberhasilan Si Nyonya Tua di atas lapangan hijau.

Bakat Zidane membuat Juventus benarbenar menguasai lini tengah dalam duel melawan AS Roma sore itu. Peluang pertama Si Nyonya Tua untuk mencetak gol lahir dari umpan crossing Zidane yang mampu dipotong oleh kiper AS Roma, Giovanni Cervone, sebelum jatuh di kaki Didier Deschamps; namun sayang, tendangan Deschamps membentur kaki Vincent Candela. Juve akhirnya unggul satu gol pada menit 28 setelah Nicola Amoruso dan Christian Vieri melakukan umpan kombinasi satu-dua yang brilian. Tendangan Vieri meluncur mulus melewati Cervone. Tanpa selebrasi yang mulukmuluk, Vieri merayakan gol itu dengan kompatriotnya.

Saturday, February 14, 2015

Kado Valentine untuk Inter Milan


#Untuk Inter Milan yang kembali ke fitrahnya sebagai pecundang, selamat merayakan Valentine!

Inter Milan, tim dengan jersey motif garis berwarna hitam-biru yang tidak keren itu, mengalami keterpurukan akhirakhir ini dan kembali menjadi pecundang yang berkutat dalam lubang mediokritas. Sebagai Juventini, sudah sepantasnya aku tertawa girang menyaksikan penderitaan Inter Milan yang pada November 2013 lalu memiliki presiden baru bernama Erick Thohir [yang juga tidak keren].

Lima musim usai menjadi treble-winner pada 2009/10, Inter Milan mengalami kesulitan menjaga imej sebagai tim papan atas Italia. Para pandit sepakbola telah mengeluarkan berbagai macam analisis terkait melempemnya performa Inter Milan akhirakhir ini: mulai dari kegalauan pasca ditinggal José Mourinho hingga memburuknya kondisi finansial mereka.

Wednesday, February 11, 2015

Kurcaci itu dulunya raksasa bernama Pro Vercelli


#One of calcio's first giants

Vercelli adalah sebuah kota di kawasan utara Piedmont, Italia. Dengan populasi hanya 47.000 jiwa, Vercelli merupakan salah satu kota kecil dan juga situs kota tertua di Italia Utara. Membentang sepanjang sungai Sesia dari Monte Rosa ke sungai Po, Vercelli -- seperti kebanyakan kotakota di Italia -- adalah rumah bagi sebuah klub sepakbola bernama Pro vercelli. Jika kamu tidak begitu mengikuti sejarah sepakbola Italia, maka kamu tidak akan mengira bahwa Pro Vercelli merupakan raksasa pertama di sepakbola Italia. Bukan, Juventus bukanlah klub besar pertama di daratan Italia, melainkan Pro Vercelli.

Pro Vercelli telah memenangkan tujuh Scudetto, yang semuanya mereka raih antara tahun 1908-1922. Bandingkan dengan raihan Scudetto milik AS Roma yang hanya berjumlah tiga, serta Napoli, Lazio, dan Fiorentina yang samasama masih mengoleksi dua gelar Scudetto.

Tuesday, February 10, 2015

Juventus: grup ultras


#Cerita singkat fans garis keras La Vecchia Signora

Kota: Turin, Italia.

Grup ultras utama: Viking, Gruppo Storico Fighters 1977, Drughi, dan Black and White Fighters Gruppo Storico 1977.

Grup ultras lainnya: 06 clan, Vecchia Guardia, Tradizione Bianconera, Panthers, Nucleo Amato Bianconero, Irriducibili Vallette, Noi Soli, Indians, Gruppo Marche 1993, Gruppo Homer, Gioventu Bianconera, Fossa dei Campioni, l Fighters, Bruxelles Bianconera, Bravi Ragazzi, Assiduo Sostegno, Area Bianconera, Arditi, dan Arancia Meccanica.