Sunday, March 1, 2015

Juventus vs. AS Roma, 15 Februari 1997


#Remember when

Stadio delle Alpi hampir penuh saat dua klub sepakbola terbesar di Italia bertemu pada 15 Februari 1997 silam. Juventus di bawah kendali Marcello Lippi merupakan juara Liga Champions Eropa, menjamu AS Roma yang sedang berjuang untuk menemukan bentuk terbaik mereka pada giornata 24 musim 1996/97. Saat itu Juventus duduk di singgasana teratas Serie A Italia dengan meyakinkan dan tampil gemilang di kompetisi Eropa. Itu juga merupakan musim pertama bagi Zinedine Zidane di Italia, di mana dia langsung menjadi arsitek keberhasilan Si Nyonya Tua di atas lapangan hijau.

Bakat Zidane membuat Juventus benarbenar menguasai lini tengah dalam duel melawan AS Roma sore itu. Peluang pertama Si Nyonya Tua untuk mencetak gol lahir dari umpan crossing Zidane yang mampu dipotong oleh kiper AS Roma, Giovanni Cervone, sebelum jatuh di kaki Didier Deschamps; namun sayang, tendangan Deschamps membentur kaki Vincent Candela. Juve akhirnya unggul satu gol pada menit 28 setelah Nicola Amoruso dan Christian Vieri melakukan umpan kombinasi satu-dua yang brilian. Tendangan Vieri meluncur mulus melewati Cervone. Tanpa selebrasi yang mulukmuluk, Vieri merayakan gol itu dengan kompatriotnya.

Saturday, February 14, 2015

Kado Valentine untuk Inter Milan


#Untuk Inter Milan yang kembali ke fitrahnya sebagai pecundang, selamat merayakan Valentine!

Inter Milan, tim dengan jersey motif garis berwarna hitam-biru yang tidak keren itu, mengalami keterpurukan akhirakhir ini dan kembali menjadi pecundang yang berkutat dalam lubang mediokritas. Sebagai Juventini, sudah sepantasnya aku tertawa girang menyaksikan penderitaan Inter Milan yang pada November 2013 lalu memiliki presiden baru bernama Erick Thohir [yang juga tidak keren].

Lima musim usai menjadi treble-winner pada 2009/10, Inter Milan mengalami kesulitan menjaga imej sebagai tim papan atas Italia. Para pandit sepakbola telah mengeluarkan berbagai macam analisis terkait melempemnya performa Inter Milan akhirakhir ini: mulai dari kegalauan pasca ditinggal José Mourinho hingga memburuknya kondisi finansial mereka.

Wednesday, February 11, 2015

Kurcaci itu dulunya raksasa bernama Pro Vercelli


#One of calcio's first giants

Vercelli adalah sebuah kota di kawasan utara Piedmont, Italia. Dengan populasi hanya 47.000 jiwa, Vercelli merupakan salah satu kota kecil dan juga situs kota tertua di Italia Utara. Membentang sepanjang sungai Sesia dari Monte Rosa ke sungai Po, Vercelli -- seperti kebanyakan kotakota di Italia -- adalah rumah bagi sebuah klub sepakbola bernama Pro vercelli. Jika kamu tidak begitu mengikuti sejarah sepakbola Italia, maka kamu tidak akan mengira bahwa Pro Vercelli merupakan raksasa pertama di sepakbola Italia. Bukan, Juventus bukanlah klub besar pertama di daratan Italia, melainkan Pro Vercelli.

Pro Vercelli telah memenangkan tujuh Scudetto, yang semuanya mereka raih antara tahun 1908-1922. Bandingkan dengan raihan Scudetto milik AS Roma yang hanya berjumlah tiga, serta Napoli, Lazio, dan Fiorentina yang samasama masih mengoleksi dua gelar Scudetto.

Tuesday, February 10, 2015

Juventus: grup ultras


#Cerita singkat fans garis keras La Vecchia Signora

Kota: Turin, Italia.

Grup ultras utama: Viking, Gruppo Storico Fighters 1977, Drughi, dan Black and White Fighters Gruppo Storico 1977.

Grup ultras lainnya: 06 clan, Vecchia Guardia, Tradizione Bianconera, Panthers, Nucleo Amato Bianconero, Irriducibili Vallette, Noi Soli, Indians, Gruppo Marche 1993, Gruppo Homer, Gioventu Bianconera, Fossa dei Campioni, l Fighters, Bruxelles Bianconera, Bravi Ragazzi, Assiduo Sostegno, Area Bianconera, Arditi, dan Arancia Meccanica.

Thursday, February 5, 2015

Balikan dengan sang mantan? Yang benar saja, Juve!


#Hang-on

Menyaksikan klasemen sementara Serie A Italia 2014/15 hingga giornata 21 sejatinya tidak ada panorama menarik karena Juventus kembali nangkring di puncak dengan selisih poin yang lumayan besar dari para pesaingnya. Ini adalah déjà vu tiga musim sebelumnya di mana akhir ceritanya adalah arogansi, kekuatan, dan kebahagiaan bagi Si Nyonya Tua.

Mungkin karena hal tersebut, Juventus tidak melakukan manuver transfer yang signifikan pada musim dingin kali ini -- tidak seperti AS Roma yang mengakuisisi Víctor Ibarbo dan Seydou Doumbia, atau AC Milan yang mendatangkan Gabriel Paletta dan Mattia Destro, atau Sampdoria yang mendapatkan Luis Muriel dan Samuel Eto'o; bahkan Inter Milan yang tidak keren itu sukses memboyong Xherdan Shaqiri dan Lukas Podolski. Dengan alasan tidak perlu adanya perubahan yang signifikan, Si Nyonya Tua memilih berhemat untuk meminimalisir dana yang berpotensi terbuang percuma. Kecewa? Jelas!

Saturday, January 31, 2015

Juan Román Riquelme


#Lazy magician in football

Namanya Juan Román Riquelme, dengan tinggi sekitar 180 cm dan wajah yang selalu murung, namun ketika kakinya menyentuh bola, sudah bisa dipastikan sebuah sihir akan terjadi setelahnya. Riquelme tidak pernah satu sekolah dengan Harry Potter di Hogwarts; kemampuannya melakukan sihir di atas lapangan hijau adalah takdir, entah berasal dari mana dan dari siapa. Yang jelas, itu sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil.

Riquelme juga merupakan pemalas -- dia tidak pernah mau membantu saat timnya bertahan dan pergerakannya lambat seperti siput. Namun kemalasannya tersebut selalu diganti dengan visi yang luar biasa, umpanumpan presisi, dan tendangan terukur yang mampu membuat siapa saja yang menyaksikannya terkagum dan bersyukur.

Thursday, January 29, 2015

Kematian Calcio Padova


#They're gone. Rest in peace.

Pada 15 Juli 2014, Calcio Padova menghilang dari sepakbola Italia setelah gagal lolos registrasi untuk mengikuti Lega Pro Italia 2014/15. Ini adalah akhir sedih dari kisah salah satu "penjaga" sepakbola Italia -- Calcio Padova didirikan tepat pada hari ini, 29 Januari, 105 tahun silam.

Presiden klub Calcio Padova, Diego Penocchio, dalam pernyataan resminya mengatakan: "Kami gagal pada saatsaat terakhir untuk mendapatkan dana dari calon investor yang menyebabkan kami tidak bisa mendaftarkan skuad utama untuk mengikuti Lega Pro." Pernyataan tersebut mengakhiri sejarah panjang Calcio Padova.