Friday, July 18, 2014

Piala Dunia 2014: pecundang dan pemenang

#It's just the matter of perspective

- The losers are:


Administrator Kamerun
Tarian Roger Milla adalah kenangan [usang]: citra sepakbola Kamerun saat ini adalah wajah cemberut Samuel Eto'o, Alex Song memukul lawan dari belakang tanpa alasan yang jelas, Benoît Assou-Ekotto menanduk rekan satu timnya tanpa alasan yang jelas, atau seluruh pemain mengancam untuk mogok karena mereka takut tidak mendapat bayaran. Selama bertahun-tahun, mis-manajemen telah menghambat perkembangan sepakbola di Kamerun dan meracuni suasana di kamp latihan, yang mengarah kepada pertunjukkan sedih yang disajikan di Brasil. Hal ini merupakan akibat dari masalah di dalam pemerintahan Kamerun. Klub di liga domestik Kamerun saat ini tengah mempertimbangkan aksi boikot kecuali mereka mendapatkan jatah dari pembagian profit Piala Dunia yang telah dijanjikan oleh pemerintahan; mungkin ini adalah titik tolak timbulnya sebuah perubahan di masa mendatang. Mungkin.

Belgia
Mereka seharusnya menjadi sebuah kekuatan yang mengerikan, namun nyatanya mereka adalah "The New England".

Thursday, July 17, 2014

Piala Dunia 2014: fans, sad footballers, and the anti -- dalam gambar


#Selama sebulan terakhir, puluhan pertandingan, ratusan gol, dan jutaan penonton, Piala Dunia 2014 telah menjadi spektakel terbesar tahun ini

Berikut ini adalah beberapa gambar paling memilukan selama perhelatan turnamen akbar tersebut. Silahkan memanjakan diri dan bernostalgia. -- Well, pada akhirnya, Jerman yang juara dan Brasil menjadi tim yang paling memilukan sekaligus memalukan.

Piala Dunia adalah teater politik global


#Culture is the stories that we tell ourselves about ourselves

Adakah sesuatu yang lebih global daripada sepakbola? FIFA percaya bahwa jumlah penonton Piala Dunia 2014 akan melebihi total penonton [3,2 miliar] yang menyaksikan turnamen tersebut pada tahun 2010 di Afrika Selatan. Pertandingan timnas Amerika Serikat telah memecahkan rekor jumlah penonton di rumah, dan, dalam dunia media yang semakin terfragmentasi, pertandingan tim nasional sepakbola memiliki jumlah penonton yang benar-benar luar biasa di seluruh penjuru dunia. Beberapa peristiwa tunggal -- bukan pendaratan manusia di bulan, bukan pula upacara pembukaan Olimpiade Beijing -- telah menarik perhatian manusia seperti, misalnya, final Piala Dunia 2014 antara Argentina dan Jerman.

Bersamaan dengan 75.000 orang yang berkumpul di Estádio Maracanã di kota Rio de Janeiro pada hari Minggu kemarin, 'paduan suara' digital yang sangat besar tersebar secara global. Facebook mengumumkan adanya tiga miliar interaksi terkait Piala Dunia 2014 yang melibatkan antara 350 juta orang. Pada minggu pertama saja, interaksi Facebook yang dilaporkan mencapai 495 juta melebihi jumlah gabungan Olimpiade Sochi 2014, Super Bowl 2014, dan penghargaan Oscar 2014. Semi-final antara Brasil dan Jerman menghasilkan 35 juta tweet dan memuncak menjadi setengah juta tiap menitnya ketika Jerman mencetak gol kelima.

Tuesday, July 15, 2014

Sebelas hal dari Piala Dunia 2014


#Things the tournament taught us

[1] Ah... FIFA tetaplah FIFA
Untuk semua tekanan yang buruk, ketika sesuatu yang sangat buruk terjadi -- sesuatu yang menjijikkan -- FIFA tidak menanggapinya. FIFA mendenda Argentina sebesar CHF 300.000 karena melanggar aturan konferensi pers. Luis Suárez, sementara itu, didenda CHF 100.000 menggigit Giorgio Chiellini. Namun larangan beraktivitas dalam dunia sepakbola selama empat bulan untuk Suárez dianggap terlalu berlebihan -- sedikit "fasis", ujar presiden Uruguay, José Mujica, yang juga mengatakan bahwa sanksi tersebut merupakan "serangan terhadap kaum miskin" yang dilakukan oleh "sekelompok bajingan dari FIFA". Sementara itu, Pepe [Portugal] didenda £9.860 karena menanduk Thomas Müller, denda £13.100 untuk Alex Song [Kamerun] karena menyikut Mario Mandzukic, dan Aljazair yang didenda CHF 50.000 karena fans mereka menggunakan laser dalam pertandingan melawan Rusia. Namun tak satu pun dari 12 pengaduan tentang rasis, homofobia, atau chant dan spanduk bertema politik sayap kanan yang mendapat respon dan tanggapan FIFA.

[2] Argentina tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang banyak
Banyak pihak mencoba filosofi sepakbola Amerika Latin pada musim panas tahun ini -- bahkan timnas Inggris memiliki momen tersebut. Namun Argentina tetap fungsional. Mereka tidak kebobolan dalam babak knockout [kecuali di laga final Minggu kemarin], mereka tidak pernah tertinggal terlebih dahulu, dan mereka tidak keberatan dengan kurangnya rasa hormat. Pelatih Alejandro 'The Sloth' Sabella mengatakan bahwa timnya "terluka, dipukuli, dan lelah setelah berperang [melawan Belanda]. Tapi dengan kerja keras, kerendahan hati, dan keseriusan, kami akan sampai di sana [final]"; Pablo Zabaleta mengatakan bahwa kekuatan mereka terletak pada kebersamaan untuk tetap "kompak dan erat" satu sama lain menghadapi para pembenci mereka.

Sepakbola? Tidak, terimakasih.


#Setelah dikecewakan oleh sepakbola, rakyat Brasil dikabarkan sedang mencari kesenangan baru

Dikarenakan peristiwa yang terjadi baru-baru ini, 200 juta penduduk Brasil telah memutuskan bahwa sepakbola -- yang telah menjadi olahraga nasional selama lebih dari 100 tahun -- bukan lagi sumber kebahagiaan hidup mereka. Pekan ini, di Brasil telah terjadi lonjakan signifikan dalam popularitas kelas seni dan lokakarya merangkai bunga, serta minat baru dalam olahraga lain seperti kriket, tiddlywinks [permainan melempar benda-benda pipih bulat ke dalam cangkir], dan voli pantai.

Mantan suporter sepakbola, sebut saja Lucio, mengatakan: "Saya berpikir bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk belajar memasak. Saya tiba-tiba juga tertarik untuk berkebun, dan saya tidak sabar untuk memulai kegiatan itu sesegera mungkin. Idealnya akhir pekan ini."

Friday, July 11, 2014

FC St. Pauli: ketika punk dan sepakbola berdampingan


#Pirates of the league

Bajak laut, politik, dan punk -- selamat datang di FC St. Pauli [a.k.a "Pirates of the League"] yang menurut Christian Koch, salah satu jurnalis majalah ShortList, bisa mengajarkan satu atau dua hal tentang kesempatan kesetaraan.

St. Pauli adalah sebuah distrik di kota Hamburg, Jerman, di mana bendera Jolly Roger ada di mana-mana -- berkibar di depan pub, toko, dan studio tato -- 'mengawasi' pekerja seks jalanan dan toko-toko seks yang menawarkan segala macam perlengkapan pemuas hasrat seksual. Di tengah 'kekacauan' itu berdiri Millerntor-Stadion. Di dalamnya, alunan nyanyian dari salah satu lagu band AC/DC mengiringi sebuah tim dengan jersey cokelat keemasan. Beberapa penggemar terlihat asik menikmati bir dengan mengibarkan syal 'Tengkorak-dan-Tulang-bersilang' di udara.

Thursday, July 10, 2014

Tujuh langkah ke neraka


#Mimpi Brasil berakhir dengan cara yang paling mengenaskan: mereka dibangunkan oleh Jerman dan diseret ke neraka! Seven steps and welcome to hell, Seleç-ow.

PhilScolar terbangun dengan keringat dingin di tengah malam. Dalam posisi duduk, menggigil, dan tatapan mata seakan telah menyaksikan teror kejam, Phil berpaling ke istrinya yang juga terbangun karena kaget. "Aku baru saja bermimpi buruk, sangat buruk, sayang," kata Phil kepada istrinya dengan nada suara gemetar ketakutan.

"Jerman ... Jerman ... Jerman ... Jerman ada di mana-mana. Mereka tidak mau berhenti. Mereka tidak berhenti mencetak gol. Itu adalah laga semi-final Piala Dunia 2014 dan aku menjadi pelatih timnas Brasil. Mereka mencetak gol pertama, aku berpikir: 'baiklah, kami adalah Brasil, kami akan membalasnya, kami Brasil, tidak apa-apa, gol itu membuat kami marah, kami Brasil dan akan segera membalasnya'.