Wednesday, December 17, 2014

Arturo Vidal: dijual atau dipertahankan?


#Akan tiba masanya dalam hidup ini di mana merelakan adalah satu-satunya pilihan yang tersisa

Setelah 25 kemenangan kandang beruntun di Serie A Italia, Juventus menyambut kedatangan Sampdoria ke Turin dengan harapan melanjutkan rutinitas mereka meraih tripoin untuk semakin mendekatkan diri pada gelar Scudetto keempat berturut-turut. Dan ketika Patrice Evra mencetak gol pembuka pada menit 12, Si Nyonya Tua tampaknya akan kembali meraih kemenangan.

Dengan keterbatasan pemain yang dimiliki -- termasuk absennya Lorenzo De Silvestri karena akumulasi kartu -- Sinisa Mihajlovic hanya memiliki sedikit opsi untuk membalikkan keadaan. Tapi nyatanya Mihajlovic mampu melakukan keajaiban. Masuknya Manolo Gabbiadini di babak kedua dan perubahan taktik yang cerdas, membuat Sampdoria membawa pulang satu poin yang sangat berharga dari Juventus Stadium.

Yang muda yang mencetak gol


#Bukankah jiwajiwa muda itu manis? Lalu mengapa harus menjadi tua?

Sejarah yang ada di dunia ini hampir sebagiannya dituliskan oleh anakanak muda. Hasrat dan gelora mereka yang meletup-letup telah menunjukkan pada kita semua bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan, untuk ikut menjadi bagian dalam sejarah keberlangsungan kehidupan manusia di atas Bumi. Seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa dan pekerjapekerja muda Paris di musim semi tahun 1968. Mereka, para anak muda bandel ini, yang biasanya terlena dengan imajiimaji televisi dan pestapesta banal kaum urban modern bangkit memberontak terhadap represifitas rezim De Gaulle. Mereka tidak ingin diam dan dibungkam, mereka mengambil tindakan untuk merebut kembali kontrol atas hidup mereka sendiri. Mereka menuliskan sejarah mereka sendiri.

Namanama di bawah ini [mungkin] bukanlah namanama anak muda yang beraksi karena hasil pembacaan mereka atas bukubuku anarki, marxis, atau bahkan literatur Situastionist International. Mereka berada dalam daftar panjang sejarah manusia di atas planet ini bukan didasari atas keyakinan bahwa 'dunia yang berbeda itu adalah sesuatu yang mungkin'. Namun mereka memiliki satu kesamaan dengan para insurgen di Paris pada tahun 1968: mereka adalah anak muda yang berhasil mencatatkan namanya di lembaran sejarah dengan tangan [atau kaki, atau kepala] mereka sendiri -- kali ini melalui aksi mereka menjebol gawang lawan di atas lapangan hijau.

Friday, December 12, 2014

Le God: tentang tuhan bernama Le Tissier


#Ironi dan sepakbola

Hari ini aku bermain-main dengan ironi, bersama dua sahabatku yang paling setia: kopihitam dan rokokputih. Kami bertiga mencoba memahami setiap logika yang tidak pernah puas untuk menjadi alasan bertambahnya kerutan di dahi. Ironi terlampau sering bersikap tidak adil. Ada begitu banyak keindahan yang perlahan memudar karena kehadiran ironi yang sering tidak terduga. Ironi tidak pernah datang dengan permohonan maaf, malah ia justru datang dengan segudang prasangka dan pandangan iri -- bersikap sekolah aku tidak pernah pantas untuk menghidupi secuil kebahagiaan hidup yang terlanjur aku kumpulkan. [Ah, bukankah keindahan dan kebahagiaan harus cepat pergi supaya menjadi hal yang abadi? Dan, mungkin, inilah yang menjadi tujuan kehadiran tak terduga dari ironi. Entahlah.]

Akan tetapi, kedigdayaan ironi bukannya tidak terkalahkan. Setidaknya, menurutku, ada seorang pria -- atau tuhan -- yang berhasil mempecundangi keganasan ironi. Pria itu bernama Matthew Le Tissier. Sebuah nama yang jarang terdengar namun perlahan mengerucut kepada deskripsi tentang ketuhanan dalam sepakbola. Ini bukan kisah tentang berhala atau seorang martir berjanggut dengan kostum bermotif garis merah-putih yang rela disalib untuk menebus dosa umat manusia. Tulisan ini hanyalah sebuah kisah tentang dunia yang menolak kenyataan bahwa tuhan sebenarnya telah mati, bahkan sebelum sosoknya hidup.

Tuesday, December 9, 2014

Sepuluh gol ajaib Del Piero


#Legend

Dua puluh tahun yang lalu, tepatnya 4 Desember 1994, Alessandro Del Piero melepaskan tendangan voli yang membuat namanya membekas di dalam hati nurani setiap pecinta sepakbola di seluruh penjuru dunia. Setelah menyaksikan dwigol Gianluca Vialli yang membuat Juventus mampu menyamakan kedudukan saat melawan Fiorentina, seorang bocah ingusan kelahiran Conegliano, Italia, ikut mengambil kesempatan untuk bersinar.

Ketika pertandingan nampaknya akan berakhir dengan hasil imbang, Alessandro Orlando mengirimkan umpan panjang sekenanya ke kotak penalti Fiorentina. Del Piero mengikuti arah bola dengan kewaspadaan tingkat tinggi, menunggu sebuah momen untuk menunjukkan skill ajaibnya kepada dunia. Dengan sedikit memiringkan bahunya, Del Piero meneruskan umpang panjang ngawur tersebut dengan sebuah tendangan voli -- yang sederhana sekaligus luar biasa brilian -- dan gol!

Sunday, December 7, 2014

Juventus, si nyonya [yang tak pernah] tua


#Usia atau umur, sebuah konsep tentang angka yang menandai lamanya sesuatu hidup di Bumi ini tidak akan mampu membuat tua atau bahkan mematikan sesuatu tersebut apabila ia selalu berpikir: "I am thinking, therefore I [always] exist."

Dekade '90an adalah masa di mana Serie A Italia merupakan liga sepakbola paling populer di seluruh penjuru dunia. Hampir seluruh pasang mata akan selalu menantikan aksi para pesepakbola yang saling beradu kecerdikan untuk menguasai ruang di atas lapangan hijau. Tempo lambat yang menjadi ciri khas permainan sepakbola di negeri pizza tersebut mampu menyihir siapa pun yang menyaksikannya. Dan juga, para trequartista yang sibuk menunjukkan kecerdasan intelejensianya dalam membongkar pertahanan gerendel a la catenaccio akan selalu menarik minat bagi siapa saja untuk mulai bermain sepakbola.

Dengan cara bermain seperti itu, selain menghibur, Liga Italia juga terlihat eksekutif dan selektif. Ada beberapa orang, hanya sebagian kecil, yang tidak akan betah menonton klubklub Italia saling beradu taktik di atas lapangan. Namun ada stereotip pada saat itu yang mengatakan bahwa "orangorang yang gemar menyaksikan dan menikmati Liga Italia biasanya memiliki selera yang tinggi dalam hal apa pun."

Friday, December 5, 2014

Nice, Balo!: kerinduan terhadap Balotelli yang dulu


#Super Mario

Pemain bengal. Ya, predikat ini hampir selalu ada di setiap era dan disematkan kepada pesepakbola yang memiliki kelakuan aneh, unik, dan lain daripada yang lain. Kelakuan si pemain bengal selalu di luar prediksi dan kerap dianggap tidak masuk akal oleh kebanyakan orang.

Pada zaman sekarang ini, salah satu nama yang kerap dilabeli pemain bengal adalah Mario Balotelli. Striker asal Italia yang kini bermain untuk Liverpool ini kerap menghadirkan kisahkisah 'unik' dalam perjalanan hidupnya. Namun akhirakhir ini, Balotelli mulai jarang menunjukkan kreativitasnya -- baik dalam hal bersepakbola maupun kebengalan. Dan jujur, aku merindukan sosok bengal Balotelli yang dulu.

Friday, July 18, 2014

Piala Dunia 2014: pecundang dan pemenang

#It's just the matter of perspective

- The losers are:


Administrator Kamerun
Tarian Roger Milla adalah kenangan [usang]: citra sepakbola Kamerun saat ini adalah wajah cemberut Samuel Eto'o, Alex Song memukul lawan dari belakang tanpa alasan yang jelas, Benoît Assou-Ekotto menanduk rekan satu timnya tanpa alasan yang jelas, atau seluruh pemain mengancam untuk mogok karena mereka takut tidak mendapat bayaran. Selama bertahun-tahun, mis-manajemen telah menghambat perkembangan sepakbola di Kamerun dan meracuni suasana di kamp latihan, yang mengarah kepada pertunjukkan sedih yang disajikan di Brasil. Hal ini merupakan akibat dari masalah di dalam pemerintahan Kamerun. Klub di liga domestik Kamerun saat ini tengah mempertimbangkan aksi boikot kecuali mereka mendapatkan jatah dari pembagian profit Piala Dunia yang telah dijanjikan oleh pemerintahan; mungkin ini adalah titik tolak timbulnya sebuah perubahan di masa mendatang. Mungkin.

Belgia
Mereka seharusnya menjadi sebuah kekuatan yang mengerikan, namun nyatanya mereka adalah "The New England".